
Raw food atau BARF (Biologically Appropriate Raw Food) makin populer di kalangan pet parent Indonesia — dan bukan tanpa alasan. Kucing adalah karnivora obligat dan anjing pada dasarnya pemakan daging; pola makan mentah yang diformulasikan dengan benar berusaha mendekati apa yang tubuh mereka evolusinya siapkan. Tapi memulainya harus benar. Ini panduannya.
Kekhawatiran utama raw food adalah keamanan bakteri dan keseimbangan nutrisi. Keduanya bisa dikelola:
Gunakan raw food dari produsen yang memproses dagingnya secara higienis dan menjaga rantai dingin (frozen) dari produksi sampai rumahmu. Jangan pakai daging sisa dapur yang tidak jelas penanganannya.
Anabul butuh daging otot + organ + tulang lunak/kalsium dalam rasio yang tepat. Raw food komersial yang diformulasikan dengan benar sudah menghitung ini — lebih aman untuk pemula daripada meracik sendiri.
Thawing di kulkas (bukan suhu ruang berjam-jam), cuci mangkuk setelah makan, dan cuci tangan — sama seperti menangani daging mentah untuk masakan manusia.
Perut anabul butuh waktu beradaptasi. Jangan ganti 100% mendadak:
Kalau feses jadi lembek di tengah transisi, tahan di rasio saat itu 2–3 hari sampai stabil, baru naik lagi. Suplemen probiotik sering dipakai untuk mendukung pencernaan selama masa transisi.
Patokan umum: 2–3% dari berat badan ideal per hari untuk anjing/kucing dewasa (kitten/puppy butuh lebih, hingga 5–6%). Contoh: kucing 4 kg ± 80–120 gram per hari, dibagi 2 kali makan. Sesuaikan dengan kondisi tubuh — rusuk teraba tapi tidak menonjol adalah patokan praktis.
ODP Basic Raw Food tersedia dalam varian Chicken, Beef, Beef & Quail, Rabbit, Buffalo & Duck — diformulasikan dan dibekukan higienis untuk kucing & anjing. Mulai dari varian kecil untuk tes selera anabulmu di halaman Raw Food ODP.